KampusMedan – Medan, Menjaga kesehatan mental tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga membutuhkan dukungan keluarga dan komunitas. Gereja juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mampu menerima, mendampingi, dan membantu proses pemulihan jemaat.
Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar Kesehatan Mental yang digelar Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) Padang Bulan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 GKPI Padang Bulan Tahun 2026.
Seminar tersebut mengangkat tema “Sehat Jiwa, Teguh dalam Iman, Menjadi Berkat bagi Sesama”, dengan Narasumber. Dr. Nenny Ika Putri Simarmata, M.Psi. Psikolog. Acara seminar tersebut diketuai Pnt. Maranatha Pasaribu, ST, M. Kom berlangsung pada Sabtu, 3 Oktober 2026 di GKPI Padang Bulan yang dibuka Pimpinan Jemaat Pdt. Janter Lubis, M.Th yang dihadiri lebih kurang 170 peserta.
Dalam keterangannya, Selasa (6/10/2026) Dr. Nenny Ika Putri Simarmata, M.Psi., Psikolog yang juga sebagai Dekan Fakultas Psikologi Universitas HKBP Nommensen Medan, memaparkan materi yang bertajuk “Menjaga Kesehatan Mental dalam Keluarga dan Kehidupan Bergereja: Membangun Keluarga dan Komunitas Gereja yang Sehat, Peduli, Menerima, dan Memulihkan”.
Dr. Nenny Ika Putri menjelaskan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi yang memungkinkan seseorang mengenali kemampuan dirinya, menghadapi tekanan kehidupan, menjalankan aktivitas sehari-hari, serta membangun relasi yang sehat. Kesehatan mental tidak berarti seseorang harus selalu bahagia atau terbebas dari masalah. “Seseorang dapat memiliki iman yang kuat sekaligus mengalami stres, kecemasan, kesedihan, atau membutuhkan bantuan”, tuturnya.
Lewat paparannya Dr. Nenny Ika Putri, mengajak jemaat mengenali berbagai tanda awal masalah kesehatan mental, mulai dari stres, kecemasan hingga kelelahan emosional atau burnout. Misalnya, stress dapat ditandai dengan kesulitan tidur, sakit kepala, jantung berdebar, mudah lelah, mudah marah, merasa tegang, menarik diri, hingga sulit berkonsentrasi. Sementara kecemasan dapat muncul melalui kekhawatiran berlebihan, ketegangan tubuh, kegelisahan, gangguan tidur maupun kecenderungan menghindari situasi tertentu.
“Pada pelayanan gereja, risiko dapat meningkat bila beban kerja meningkat, karena itu, diperlukan istirahat yang cukup dan diperlukan evaluasi terhadap beban kerja. Namun perlunya menghilangkan anggapan bahwa persoalan kesehatan mental selalu berkaitan dengan lemahnya iman. Dr. Nenny Ika Putri juga menegaskan bahwa doa, membaca Alkitab, beribadah, dan dukungan komunitas dapat menjadi sumber kekuatan. Namun, pengalaman psikologis yang berat tidak semestinya otomatis dipandang sebagai tanda seseorang kurang beriman”,tuturnya.
Dr. Nenny Ika Putri juga menjelaskan bahwa psikolog dapat membantu dalam asesmen dan intervensi psikologis sesuai kompetensinya, sedangkan psikiater menangani kondisi medis atau psikiatris dan dapat memberikan penanganan medis apabila diperlukan.
Dalam kehidupan bergereja, Dr. Nenny Ika Putri juga mendorong terciptanya ruang yang aman bagi jemaat untuk berbicara. Terdapat tiga peran utama gereja dalam mendukung kesehatan mental jemaat, yakni menerima, mendampingi, dan memulihkan. Menerima berarti menciptakan komunitas yang bebas dari stigma dan penghakiman. Mendampingi berarti hadir, mendengar, berdoa, serta membantu seseorang memperoleh pertolongan. Memulihkan berarti mendukung proses pemulihan dan membantu seseorang kembali berfungsi dalam keluarga maupun komunitas” tutupnya.
Pimpinan Jemaat GKPI Padang Bulan, Pdt. Janter Lubis, M.Th, berharap kegiatan tersebut dapat membantu jemaat memahami pentingnya menjaga kesehatan mental, menggali potensi psikologis dalam kehidupan sehari-hari, serta membangun kebiasaan untuk saling menguatkan dalam keluarga dan kehidupan bergereja.
“Kegiatan Seminar ini, tentu sangat bermanfaat bagi kami, semoga jemaat mampu melakukan refleksi mengenai sumber tekanan yang dialami jemaat, cara menghadapi tekanan, ruang aman untuk berbicara dalam keluarga, serta siapa yang dapat dihubungi ketika membutuhkan dukungan. Semoga segenap jemaat HKPI terpanggil menjadi komunitas yang menerima, mendampingi, dan memulihkan sesama” tutup Pdt. Janter Lubis, MTh.(RIL/MBB)








