Home / Ragam / Dr. Nenny Ika Putri Simarmata, M.Psi, Psikolog Ajak Istri Praeses HKBP Perkuat Soft Skill Keluarga

Dr. Nenny Ika Putri Simarmata, M.Psi, Psikolog Ajak Istri Praeses HKBP Perkuat Soft Skill Keluarga

KampusMedan – Siborongborong, Keluarga Pimpinan dan Praeses Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) diajak memperkuat kemampuan soft skill sebagai bagian penting dalam mendukung kehidupan keluarga sekaligus pelayanan gereja. Pesan tersebut mengemuka dalam pertemuan keluarga Pimpinan dan Praeses HKBP yang digelar di Jetun Silangit, Selasa (8/9/2026), dengan narasumber Dr. Nenny Ika Putri Simarmata, M.Psi., Psikolog, Dekan Fakultas Psikologi Universitas HKBP Nommensen Medan, melalui materi yang disampikan dengan tajuk “Kekuatan di Balik Pelayanan: Peran Soft Skill dalam Keluarga Pelayan Gereja”.

Dalam keterangannnya, Jumat (18/9/2026), Dr. Nenny Ika Putri Simarmata, M. Psi. Psikolog menyampaikan sesi ini secara khusus diikuti para istri pendeta dan keluarga Praeses HKBP. Istri seorang pelayan gereja, khususnya istri Praeses, memiliki posisi penting dalam menopang kehidupan keluarga dan pelayanan suami. Menurut dia, meskipun istri Praeses tidak selalu memiliki jabatan atau tanggung jawab struktural dalam organisasi gereja, kehadiran, sikap, dan cara membangun relasi dapat memberikan pengaruh besar terhadap suasana keluarga, hubungan dengan jemaat, serta keberlangsungan pelayanan suami.

“Istri Praeses dipanggil untuk menjadi pribadi yang memiliki kasih, kerendahan hati, kebijaksanaan, dan kepedulian terhadap sesama. Keteladanan seorang istri Praeses tidak berarti harus tampil sebagai pribadi yang sempurna, sebaliknya, keteladanan dapat ditunjukkan melalui kesediaan untuk terus belajar, bertumbuh, memperbaiki diri, serta menjalani kehidupan yang mencerminkan kasih, pengampunan, dan tanggung jawab” ujar Dr. Nenny Ika Putri Simarmata.

Pentingnya Kematangan Emosional

Dr. Nenny Ika Putri juga menyoroti pentingnya kematangan emosional dalam menjalani kehidupan sebagai keluarga pelayan gereja. Tuntutan pelayanan dapat menghadirkan berbagai situasi yang tidak selalu mudah, mulai dari kesibukan suami, beragam karakter jemaat, tuntutan keluarga, hingga persoalan relasi sosial. Karena itu, kemampuan mengenali dan mengelola emosi menjadi bagian penting dari kedewasaan pribadi.

“Istri Praeses, tidak harus selalu terlihat kuat atau menyembunyikan perasaannya, yang lebih penting adalah mampu mengenali perasaan, mengendalikan respons ketika menghadapi tekanan, serta menyampaikan pikiran dan kebutuhan secara sehat dan bijaksana. Kehidupan pelayanan dapat dijalani dengan kekuatan karakter. Ketenangan, empati, dan kedewasaan dalam menghadapi berbagai situasi dapat menjadi contoh bagi keluarga pelayan gereja lainnya” sambung Dr. Nenny Ika Putri.

Menjadi Jembatan, Bukan Sumber Konflik

“Dalam kehidupan keluarga maupun pelayanan, konflik merupakan sesuatu yang mungkin terjadi. Namun, menurut Dr. Nenny Ika Putri, bahwa kemampuan mengelola konflik secara sehat menjadi salah satu soft skill yang penting dimiliki keluarga pelayan gereja. Komunikasi terbuka, kemampuan mendengarkan, empati, menghargai perbedaan pendapat, serta menyelesaikan persoalan tanpa merendahkan pihak lain perlu terus dikembangkan”.
Lebih lanjut Dr. Nenny Ika Putri menyampaikan, “menjadi pribadi yang tidak menjadi sumber konflik, bukan berarti seseorang harus selalu mengalah atau menerima perlakuan yang tidak adil”. “Isteri pelayan harus memiliki kesadaran untuk menjaga perkataan, menghindari gosip, tidak memperkeruh susasan dan kondisi dan memilih penyelesaian yang membawa damai. Dengan kemampuan tersebut, istri Praeses diharapkan dapat menjadi jembatan dalam membangun relasi yang sehat, baik di dalam keluarga maupun di tengah kehidupan jemaat” pungkasnya.

Dr. Nenny Ika Putri juga menyampaikan bahwa dukungan istri terhadap pelayanan suami tidak semata-mata diwujudkan dengan kehadiran dalam berbagai kegiatan gerejawi. Dukungan dapat diberikan melalui doa, penguatan emosional, komunikasi yang sehat, serta kesediaan memahami tantangan yang dihadapi suami dalam menjalankan panggilan pelayanan. Keluarga harus menjadi ruang bagi pelayan gereja untuk berbagi pengalaman, memperoleh dorongan, sekaligus menemukan ketenangan setelah menghadapi berbagai tuntutan pelayanan.
Keluarga sebagai kekuatan di balik pelayanan

Sementara itu, Tima Warni Pangaribuan selaku Istri Ephorus HKBP, , dalam sambutannya menegaskan bahwa di balik setiap pelayan yang menjalankan tugas kepemimpinan gereja terdapat keluarga yang menjadi tempat berteduh, sumber kekuatan, dan teman seperjalanan. “Topangan kita kepada Pimpinan dan Praeses sangat menentukan kualitas pelayanan yang mereka jalankan,” kata Ompung Boru. “Ia menilai pelayanan yang baik tidak hanya lahir dari kemampuan seseorang menjalankan tugas, tetapi juga dari hati yang sehat, relasi yang baik, komunikasi yang terbuka, dan keluarga yang saling menopang”.

Pertemuan keluarga Pimpinan dan Praeses HKBP, menurut dia, menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas pelayanan, berbagi pengalaman, mendengarkan satu sama lain, saling menguatkan, dan berdoa bersama. Beliau juga menyampaikan hampir dua tahun perjalanan pelayanan bersama dalam periode kepemimpinan saat ini telah dilalui. Karena itu, kesempatan untuk bertemu dan membangun kebersamaan perlu disyukuri. “Dalam perjalanan pelayanan yang panjang, kita tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk bekerja, tetapi juga hati yang mau memahami, telinga yang mau mendengar, dan tangan yang mau saling menopang,” ujarnya.

Soft Skills Dalam Kehidupan Pelayanan

Tima Warni Pangaribuan juga menjelaskan, soft skill berkaitan dengan kemampuan seseorang berkomunikasi, bekerja sama, memimpin, mengelola diri, dan membangun relasi dengan orang lain. Kemampuan mendengarkan, berempati, bekerja sama, memiliki disiplin, mengembangkan kreativitas, memimpin, serta menyelesaikan persoalan secara bijaksana menjadi bagian penting dalam kehidupan pelayanan.

Pada pertemun tersebut Ompung boru berharap materi yang disampaikan Dr. Nenny Ika Putri tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam membangun komunikasi keluarga dan mendampingi Pimpinan serta Praeses menjalankan pelayanan. “Kiranya apa yang kita dengarkan dapat menjadi bekal yang sederhana, tetapi bermakna, untuk membuat perjalanan pelayanan kita semakin kuat, hangat, dan penuh sukacita”,tutupnya. (Ril/MBB).)

Tag:

Tinggalkan Balasan