KampusMedan – Sunggal, Peternakan Sapi tidak hanya merawat ternak Sapi, masih banyak aktivitas lain yang dilakukan peternak tentunya. Di Dusun I Telaga Sari, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, aktivitas peternak Sapi juga harus memikirkan satu kebutuhan yang tidak boleh terputus, yaitu pakan.
Rumput harus tersedia dalam jumlah cukup. Bahan pakan perlu dikumpulkan dan disiapkan sebelum diberikan kepada ternak. Ketika masih dilakukan secara manual, pekerjaan tersebut membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit.
Kondisi itulah yang menjadi perhatian tim Politeknik Negeri Medan (Polmed) melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM). Tim membawa sebuah gagasan yang sederhana tetapi dekat dengan kebutuhan peternak: memanfaatkan mesin pencacah untuk mengolah bahan pakan yang tersedia di sekitar mereka.
Ketua Tim PKM, Sihar Siahaan, S.T., M.T, bersama Penteris Rumissar P. Naibaho, B.Eng., M.., Prisca Caesa Moneteringtyas, S.Si., M.Sc dan Siti Mahmudha, M.Sc, melaksanakan kegiatan bersama mahasiswa dari beberapa bidang keahlian.
Bahan pakan sebenarnya tidak sulit ditemukan. Di sekitar wilayah mitra terdapat rumput gajah, rumput lapangan, jerami padi, ubi kayu, batang dan tongkol jagung, pelepah kelapa sawit, dan berbagai limbah pertanian lainnya. Masalahnya, sebagian bahan tersebut belum mudah dimanfaatkan karena perlu dicacah terlebih dahulu.
Selama ini, hijauan cenderung diberikan langsung kepada sapi. Cara tersebut membuat ukuran pakan tidak seragam. Bagian tanaman yang kurang disukai ternak dapat tersisa dan akhirnya menumpuk di sekitar kandang. Dari pengamatan tim, kondisi tersebut menunjukkan masih adanya ruang untuk memperbaiki cara pengelolaan pakan.
Mesin pencacah pakan serbaguna kemudian ditawarkan sebagai alat bantu. Bukan hanya rumput, mesin dirancang untuk dapat mengolah tongkol jagung dan berbagai bahan hijauan lainnya. Tujuannya bukan sekadar mempercepat pekerjaan, tetapi membuat bahan pakan lebih mudah disiapkan dan lebih seragam ukurannya.
Menariknya, peternak tidak hanya menerima hasil akhir. Mereka dilibatkan sejak awal. Tim terlebih dahulu melakukan survei, mengidentifikasi kebutuhan, lalu mendiskusikan desain mesin bersama mitra. Kapasitas, kemudahan pengoperasian, keamanan, biaya, dan kondisi lapangan menjadi bagian dari pembahasan sebelum mesin dibuat.
Setelah proses pembuatan selesai, mesin diuji di lokasi peternakan. Pengujian dilakukan untuk melihat kinerja alat, termasuk kapasitas pencacahan, kualitas hasil cacahan, konsumsi energi, getaran, keamanan, dan kemudahan pengoperasian.
Ada satu hal yang juga menjadi perhatian: bagaimana memastikan mesin tidak berhenti digunakan setelah kegiatan selesai. Karena itu, peternak mendapatkan pelatihan pengoperasian dan perawatan. Materinya mencakup keselamatan kerja, pembersihan, pelumasan, perawatan rutin, serta penanganan gangguan ringan.
Pendekatan ini membuat kegiatan PKM tidak sekadar berbentuk penyerahan alat. Mitra diberi kesempatan untuk mencoba, memahami, dan mengoperasikan teknologi secara langsung. Mereka juga dilibatkan dalam evaluasi awal terhadap kinerja mesin.
Bagi peternak, nilai penting teknologi ini terletak pada kemampuannya menjawab pekerjaan sehari-hari. Rumput yang panjang dapat dicacah, bahan pertanian yang sebelumnya kurang dimanfaatkan dapat dipertimbangkan sebagai sumber pakan, dan proses persiapan pakan dapat dilakukan dengan bantuan mesin.
Bagi Polmed, kegiatan tersebut menjadi contoh bahwa inovasi tidak selalu harus hadir dalam bentuk teknologi yang rumit. Teknologi tepat guna justru harus dekat dengan persoalan masyarakat, mudah dipahami, dapat dirawat, dan memiliki peluang untuk digunakan secara berkelanjutan.
Ke depan, tim berharap pemanfaatan mesin pencacah dapat mendorong peternak Telaga Sari mengoptimalkan sumber daya pakan yang ada di lingkungan mereka. Dengan pengelolaan yang lebih baik, bahan yang sebelumnya kurang termanfaatkan dapat memiliki nilai guna yang lebih besar bagi usaha peternakan.
Dari Telaga Sari, pesan yang dibawa kegiatan ini sederhana: ketika teknologi dirancang dari persoalan nyata, mesin bukan hanya menjadi benda baru di kandang. Ia dapat menjadi alat bantu untuk membuat pekerjaan lebih mudah dan membuka peluang pengelolaan peternakan yang lebih efisien.(RIL/MBB)









