KampusMedan – Medan, Bank Indonesia Perwakilan Sumut kembali menggelar Bincang-Bincang Media (BBM) Ekonomi dan Bisnis, Jum’at (7/8/2026). Kepala Perwakilan BI Sumut Ameriza M.Moesa menjelaskan, bahwa ekonomi Sumut diprediksi tumbuh 4,9 persen hingga 5,7 persen tahun 2026.
Ameriza juga mengungkapkan, ketegangan perang Iran denga Amerika semakin memanas, sehingga perdagangan ekonomi dunia tidak baik-baik saja. “Ketegangan geopolitik dan persaingan dagang global dengan memicu kenaikan harga komoditas serta menurunkan proyeksi di negara-negara besar seperti Tiongkok 4,6 persen, Amerika Serikat 2 Persen, Jepang 0,6 persen, Sementara pada ekonomi nasional Indonesia di Triwulan II mampu tumbuh 5,29 persen dari sisi konsumsi dan investasi.” Jelasnya.
Kepala Divisi Pengawasan Perilaku PUJK Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Provinsi Sumatera Utara. Yopi Sukandar turut menyampaikan, bahwa diproyeksikan pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara tumbuh 5,6 persen pada triwulan II tahun 2026 dan mampu mencapai 4,9 persen hingga 5,7 persen, mendorong lonjakan ekspor CPO, investasi Rp545 miliar penyaluran dana TK DAPBN, besarnya Rp25 triliun, jelasnya.
Bank Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi di Sumut sebesar 4,9 persen – 5,7 persen pada akhir tahun 2026, realisasi pertumbuhan kredit perbankan semester I mencapai 7,55 Persen OJK Oktimistis sektor jasa keuangan berkontribusi maksimal, pungkas Yopi.
Acara ini turut dihadiri oleh Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Imam Gunadi, Kepala Devisi Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi dan Perlindungan Konsumsi OJK Provinsi Sumatera Utara Yovi Sukandar, Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II (DJPB) Sumut Edy Purwanto.
Ameriza M.Moesa menambahkan, risiko geopolitik semakin meningkat dengan eskalasi konflik yang terjadi di Timur Tengah dan mendorong kenaikan harga minyak serta memicu volatilitas pasar keuangan global. Nilai tukar rupiah melemah, terlemah sejak tahun 2020.
Dijelaskan Ameriza M.Moesa bahwa di Triwulan II Tahun 2026, menurut Prospek Ekonomi di Sumatera Utara sangat beruntung tumbuh hingga 5,7 Persen dibandingkan dengan daerah di luar sumatera Utara dan lainnya. Sumatera pertumbuhan ekonominya yang meningkat daerah Aceh, Sumatera Utara, dan Bengkulu, daerah lainnya melemah, capaian ekonomi kita cukup baik, ungkap Ameriza.
Ameriza juga mengungkapkan, ketegangan perang Iran denga Amerika semakin memanas, sehingga perdagangan ekonomi dunia tidak baik-baik saja. “Ketegangan geopolitik dan persaingan dagang global dengan memicu kenaikan harga komoditas serta menurunkan proyeksi di negara-negara besar seperti Tiongkok 4,6 persen, Amerika Serikat 2 Persen, Jepang 0,6 persen, Sementara pada ekonomi nasional Indonesia di Triwulan II mampu tumbuh 5,29 persen dari sisi konsumsi dan investasi.”jelasnya.
Bank Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi di Sumut sebesar 4,9 persen – 5,7 persen pada akhir tahun 2026, realisasi pertumbuhan kredit perbankan semester I mencapai 7,55 Persen OJK Oktimistis sektor jasa keuangan berkontribusi maksimal, pungkas Yopi.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 tetap terjaga sebesar US$ 145,3 miliar. Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Ramdan Denny Prakoso, posisi ini relatif stabil dibandingkan dengan posisi akhir Juni 2026 sebesar US$ 145,6 miliar.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan posisi cadangan devisa turun tipis pada Juli 2026. Ramdan mengatakan perkembangan posisi cadangan devisa Juli 2026 tersebut dipengaruhi terutama oleh penerimaan pajak dan jasa serta penerbitan global bond pemerintah.
Selain itu, pembayaran pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah BI sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang kembali meningkat.
“Posisi cadangan devisa pada akhir Juli 2026 setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor,” ujar Ramdan dalam keterangannya, Jumat (7/8/2026).
Ramdan menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Ke depan, Bank Indonesia meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.(RED/MBB)









