KampusMedan – Tiga Panah, Fluktuasi harga cabai merah menjadi salah satu persoalan yang terus dihadapi petani di Kabupaten Karo. Untuk memahami persoalan tersebut secara lebih mendalam, tim peneliti Fakultas Pertanian Universitas HKBP Nommensen Medan turun langsung ke sejumlah sentra produksi cabai merah dan berdiskusi dengan petani.
Dr. Albina Ginting, SP, M.Si selaku Ketua Tim Peneliti dalam keterangannya, Jumat 14 Agustus 2026, menyampaikan kegiatan pengumpulan data dilakukan pada 27–30 Juli 2026 melalui focus group discussion (FGD), wawancara, dan pengumpulan data lapangan bersama puluhan petani cabai merah pada empat desa, yakni Desa Dokan, Kecamatan Merek, Desa Kutambelin, Kecamatan Namanteran; Desa Manuk Mulia, Kecamatan Tigapanah; serta Desa Pintu Besi, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari penelitian yang didanai BIMA Kemendiktisaintek Tahun 2026 dengan judul penelitian “Model Sistem Agribisnis Hortikultura Terintegrasi Mendukung Ketahanan Pangan dan Stabilitas Harga Cabai Merah di Kabupaten Karo”, dengan peneliti Dr. Albina Ginting, SP, M.Si sebagai ketua, dan anggota Dr. Hotden L. Nainggolan, SP, M.Si dan Ir. Yanto Raya Tampubolon, MP.
Ketua tim peneliti, Dr. Albina Ginting, SP, M.Si, mengatakan FGD dilakukan untuk mendapatkan gambaran langsung mengenai kondisi yang dihadapi petani cabai merah, mulai dari produksi hingga pemasaran. “Data yang diperoleh dari petani menjadi bagian penting untuk memahami kondisi riil sistem agribisnis cabai merah di Kabupaten Karo,” kata Albina.
Petani dan Pemerintah Desa Dilibatkan
Dr. Albina Ginting, SP, MSi, yang juga merupakan Ketua Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas HKBP Nommensen Medan, menyampaikan FGD dilakukan di Desa Dokan dan tim peneliti berdiskusi dengan petani dan pemerintah desa yang dipimpin Kepala Desa Martinus Sembiring. Selanjutnya, kegiatan dilakukan di Desa Kutambelin bersama Kepala Desa Maidi Sahman Surbakti. FGD juga berlangsung di Desa Manuk Mulia bersama Kepala Desa Kamsin Ginting, serta di Desa Pintu Besi bersama Kepala Desa Pirman Karo-Karo.
Para kepala desa menyampaikan dukungan terhadap penelitian yang dilakukan Fakultas Pertanian Universitas HKBP Nommensen Medan. Mereka berharap penelitian tersebut dapat menghasilkan masukan yang bermanfaat bagi pengembangan pertanian dan peningkatan kesejahteraan petani cabai merah. Dukungan pemerintah desa juga dinilai penting karena persoalan agribisnis cabai tidak hanya berkaitan dengan kegiatan produksi di tingkat petani, tetapi juga menyangkut pemasaran, distribusi, kelembagaan dan akses terhadap pasar.
Persoalan Cabai dari Hulu hingga Hilir
Pada kesempatan lain, anggota tim peneliti, Dr. Hotden L. Nainggolan, SP, M.Si, mengatakan persoalan harga cabai merah perlu dilihat secara menyeluruh. Menurut dia, harga cabai tidak hanya ditentukan oleh jumlah produksi, tetapi juga berkaitan dengan distribusi, keseimbangan pasokan dan permintaan, kelembagaan petani, serta hubungan antara petani dengan pasar.
“Karena itu, penelitian ini tidak hanya melihat persoalan produksi, tetapi mencoba melihat system agribisnis secara terintegrasi dari hulu hingga hilir,” ujarnya. Fluktuasi harga cabai merah juga berkaitan dengan ketidakseimbangan pasokan dan permintaan. Selain itu, lemahnya integrasi antara produksi, pascapanen, kelembagaan dan pasar serta ketidakefisienan rantai pasok dapat memperbesar disparitas harga antara produsen dan konsumen. Karena itu, penelitian diarahkan untuk merumuskan model ystem agribisnis hortikultura yang mampu menghubungkan berbagai subsistem tersebut” tutup Dr. Hotden L. Nainggolan, SP, M.Si.
Libatkan Puluhan Petani
Pengumpulan data lapangan dipimpin oleh Dr. Albina Ginting, SP, M.Si bersama dengan Riska Elsa Sinaga, SP, MP, serta mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas HKBP Nommensen Medan. Petani dilibatkan sebagai sumber informasi utama melalui FGD, wawancara dan kuesioner.
Data primer tersebut nantinya akan dilengkapi dengan data sekunder dari Badan Pusat Statistik, Dinas Pertanian Kabupaten Karo dan sumber resmi lainnya. Data yang dikumpulkan akan digunakan sebagai bahan analisis kondisi sistem agribisnis cabai merah, ketahanan pangan petani, stabilitas harga, serta hubungan antarsubsistem agribisnis, termasuk melihat pengaruh integrasi agribisnis terhadap volatilitas harga dan ketahanan pangan” tutup Dr. Albina Ginting, SP, M.Si.
Diharapkan Jadi Masukan Kebijakan
Ketua tim peneliti Dr. Albina Ginting, SP, M.Si menyampaikan penelitian ini diharapkan tidak berhenti pada pemetaan persoalan, tetapi menghasilkan model yang dapat menjadi dasar pengembangan sistem agribisnis cabai merah yang lebih terintegrasi. Model tersebut diharapkan dapat memperkuat keterhubungan antara produksi, distribusi, kelembagaan dan pasar sehingga mampu mendukung ketahanan pangan sekaligus stabilitas harga cabai merah di Kabupaten Karo.
“Harapannya, hasil penelitian ini dapat memberikan masukan bagi petani, pemerintah daerah, kelompok tani, pelaku usaha dan pemangku kepentingan lainnya dalam memperkuat sistem agribisnis cabai merah di Kabupaten Karo,” kata Albina. Penelitian ini juga menargetkan kebaruan berupa model konseptual pengembangan sistem agribisnis hortikultura terintegrasi yang mendukung ketahanan pangan dan stabilitas harga cabai merah di Kabupaten Karo, tandas Dr. Albina Ginting, SP, M.Si.(RIL/MBB)








