Di Perpustakaan Cahaya
Di sebuah pagi yang belum selesai dilahirkan,
aku melihat pengetahuan berjalan tanpa suara,
membawa setumpuk buku di punggung zaman,
mengetuk pintu-pintu kepala
yang terlalu lama dikunci ketakutan.
Ia tidak datang sebagai raja
dengan mahkota emas dan singgasana tinggi,
melainkan sebagai api kecil
di mata seorang anak
yang bertanya mengapa hujan jatuh
dan mengapa manusia bisa lupa
pada sesamanya sendiri.
Pengetahuan adalah sungai
yang tidak memilih siapa yang haus.
Ia mengalir ke ladang petani,
ke meja-meja sekolah yang retak,
ke tangan buruh yang berdebu,
ke ruang laboratorium,
bahkan ke hati penyair
yang diam-diam memungut makna
dari reruntuhan dunia.
Tetapi lihatlah──
di abad yang bergerak secepat mesin,
masih ada manusia
yang lebih percaya pada gema
daripada kebenaran.
Masih ada yang membakar pertanyaan
karena takut kehilangan jawaban lama.
Padahal pengetahuan
tidak pernah meminta kita menjadi sempurna.
Ia hanya meminta keberanian
untuk terus belajar,
untuk mengakui bahwa langit
lebih luas dari keyakinan kita sendiri ──
Dari ilmu, kapal menemukan samudra.
Dari ilmu, penyakit belajar menyerah.
Dari ilmu, huruf-huruf kecil
menjelma jembatan
yang menyambungkan desa terpencil
dengan denyut dunia.
Namun pengetahuan tanpa nurani.
adalah pisau di tangan badai.
Ia bisa membangun kota-kota tinggi
sekaligus meruntuhkan kemanusiaan.
Karena itu manusia harusnya berjalan
dengan akal di satu tangan
dan belas kasih di tangan lainnya.
Kelak, ketika sejarah selesai menghitung usia kita,
bukan harta yang paling lama tinggal,
melainkan gagasan
yang menyalakan kehidupan orang lain.
Dan barangkali,
di sebuah perpustakaan tua
atau di sudut kelas yang sederhana,
akan ada seorang anak
membuka buku dengan mata berbinar,
lalu menemukan masa depan
di antara halaman-halaman
yang hari ini kita perjuangkan.(RED/MBB/IST)








