Home / Kampus / Debora Hutauruk dengan Puisi “Di Perpustakaan Cahaya”

Debora Hutauruk dengan Puisi “Di Perpustakaan Cahaya”

Di Perpustakaan Cahaya

Di sebuah pagi yang belum selesai dilahirkan,

aku melihat pengetahuan berjalan tanpa suara,

membawa setumpuk buku di punggung zaman,

mengetuk pintu-pintu kepala

yang terlalu lama dikunci ketakutan.

Ia tidak datang sebagai raja

dengan mahkota emas dan singgasana tinggi,

melainkan sebagai api kecil

di mata seorang anak

yang bertanya mengapa hujan jatuh

dan mengapa manusia bisa lupa

pada sesamanya sendiri.

Pengetahuan adalah sungai

yang tidak memilih siapa yang haus.

Ia mengalir ke ladang petani,

ke meja-meja sekolah yang retak,

ke tangan buruh yang berdebu,

ke ruang laboratorium,

bahkan ke hati penyair

yang diam-diam memungut makna

dari reruntuhan dunia.

Tetapi lihatlah──

di abad yang bergerak secepat mesin,

masih ada manusia

yang lebih percaya pada gema

daripada kebenaran.

Masih ada yang membakar pertanyaan

karena takut kehilangan jawaban lama.

Padahal pengetahuan

tidak pernah meminta kita menjadi sempurna.

Ia hanya meminta keberanian

untuk terus belajar,

untuk mengakui bahwa langit

lebih luas dari keyakinan kita sendiri ──

Dari ilmu, kapal menemukan samudra.

Dari ilmu, penyakit belajar menyerah.

Dari ilmu, huruf-huruf kecil

menjelma jembatan

yang menyambungkan desa terpencil

dengan denyut dunia.

Namun pengetahuan tanpa nurani.

adalah pisau di tangan badai.

Ia bisa membangun kota-kota tinggi

sekaligus meruntuhkan kemanusiaan.

Karena itu manusia harusnya berjalan

dengan akal di satu tangan

dan belas kasih di tangan lainnya.

Kelak, ketika sejarah selesai menghitung usia kita,

bukan harta yang paling lama tinggal,

melainkan gagasan

yang menyalakan kehidupan orang lain.

Dan barangkali,

di sebuah perpustakaan tua

atau di sudut kelas yang sederhana,

akan ada seorang anak

membuka buku dengan mata berbinar,

lalu menemukan masa depan

di antara halaman-halaman

yang hari ini kita perjuangkan.(RED/MBB/IST)

Tag:

Tinggalkan Balasan