KampusMedan – Medan, Dr. Nenny Ika Putri Simarmata, M.Psi., Psikolog, Dekan Fakultas Psikologi Universitas HKBP Nommensen Medan, kembali menunjukkan kontribusi akademisi dalam penguatan tata kelola organisasi keagamaan melalui keterlibatannya sebagai anggota Komisi Pengembangan Sumber Daya Pelayan (KPSDP) HKBP. Bersama dengan para anggota komisi lainnya, Dr. Nenny mengikuti rapat yang digelar di Kantor Pusat HKBP, Pearaja, Tarutung, Jumat (10/7/2026).
Dalam keterangannya Dr. Nenny Ika Putri Simarmata, M.Psi., Psikolog (Sabtu, 11 Juli 2026), menyampaikan keikutsertaan dalam rapat tersebut berdasarkan undangan Ketua KPSDP HKBP Nomor 03/KPSDP.HKBP/VI/2026 tanggal 25 Juni 2026. Pertemuan ini menjadi forum strategis untuk mengevaluasi program kerja komisi sekaligus merumuskan arah kebijakan pengembangan sumber daya manusia (SDM) pelayan HKBP dalam menghadapi tantangan pelayanan gereja yang semakin dinamis.
Salah satu agenda utama rapat adalah penyusunan konsep pembinaan dan pelatihan berjenjang bagi pelayan HKBP, meliputi pendeta, guru huria, diakones, dan bibelvrouw. Selain itu, komisi juga membahas penyempurnaan konsep persyaratan calon pelayan, termasuk sistem rekrutmen, seleksi, pembinaan, dan pengembangan kompetensi yang berkesinambungan.
Sebagai akademisi yang memiliki kepakaran di bidang psikologi, Dr. Nenny Ika Putri Simarmata, M.Psi, memberikan berbagai masukan terkait pengembangan kompetensi, asesmen potensi, kepemimpinan, pembentukan karakter, serta aspek psikologis yang perlu menjadi bagian dari proses seleksi dan pembinaan pelayan gereja. “Kualitas pelayanan gereja tidak hanya ditentukan oleh kapasitas teologis, tetapi juga oleh kematangan kepribadian, integritas, kecerdasan emosional, kemampuan berkomunikasi, dan kepemimpinan yang melayani” tuturnya.
“Pengembangan sumber daya manusia merupakan investasi jangka panjang bagi organisasi, termasuk gereja. Karena itu, proses rekrutmen, seleksi, dan pembinaan pelayan perlu didukung dengan pendekatan ilmiah agar menghasilkan pelayan yang memiliki kompetensi, integritas, kematangan emosional, serta kemampuan melayani jemaat sesuai dengan tantangan zaman,” ujar Dr. Nenny Ika Putri Simarmata, M. Psi.
Ia menjelaskan bahwa ilmu psikologi memiliki peran penting dalam membantu organisasi menyusun instrumen seleksi yang lebih objektif dan komprehensif, memetakan potensi individu, sekaligus merancang pola pembinaan yang berjenjang sesuai kebutuhan pelayanan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendukung HKBP dalam mempersiapkan pelayan yang profesional, adaptif, dan memiliki ketangguhan dalam menghadapi perubahan sosial dan perubahan global.
Sesuai mandatnya, KPSDP HKBP bertugas menyusun rekomendasi kebijakan kepada pimpinan HKBP mengenai pembinaan calon pelayan, sistem rekrutmen dan seleksi, serta pengembangan kapasitas pelayan secara berkelanjutan. Berbagai rekomendasi yang dihasilkan komisi selanjutnya menjadi bahan pertimbangan dalam pembahasan di Majelis Pekerja Sinode (MPS) HKBP sebagai bagian dari proses pengambilan kebijakan organisasi.
Keterlibatan Dr. Nenny Ika Putri Simarmata, M. Psi dalam komisi tersebut juga mencerminkan semakin luasnya kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan organisasi keagamaan melalui pendekatan ilmiah. Keahlian akademik tidak hanya berkembang di ruang perkuliahan dan laboratorium, tetapi juga diterapkan dalam penyusunan kebijakan yang berdampak pada penguatan kualitas sumber daya manusia dan tata kelola kelembagaan.
Peran aktif Fakultas Psikologi Universitas HKBP Nommensen Medan ini sejalan dengan semangat Kampus Berdampak yang diusung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, yaitu mendorong perguruan tinggi untuk menghadirkan solusi nyata bagi berbagai persoalan masyarakat. Dalam konteks ini, keilmuan psikologi menjadi landasan ilmiah yang mendukung pengembangan SDM pelayan HKBP secara lebih sistematis, terukur, dan berkelanjutan.
Sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga keagamaan tersebut diharapkan melahirkan kebijakan pengembangan pelayan yang semakin berkualitas, sehingga HKBP memiliki sumber daya pelayan yang tidak hanya unggul dalam kompetensi teologis, tetapi juga matang secara psikologis, kuat dalam kepemimpinan, serta mampu menjawab kebutuhan pelayanan gereja di tengah perubahan masyarakat yang terus berkembang (REL/MBB).









