KampusMedan – Medan, Perguruan Tinggi terus didorong untuk berperan dalam memberikan dampak nyata bagi masyarakat melalui penerapan ilmu pengetahuan dan kepakaran akademik. Semangat tersebut diwujudkan oleh Fakultas Psikologi Universitas HKBP Nommensen Medan melalui pembinaan Guru Sekolah Minggu (GSM) di Gereja HKBP Tanjung Sari Medan, Selasa 24 Agustus 2026.
Pembinaan yang dilakukan oleh Gereja HKBP Tanjung Sari Medan tersebut diikuti seluruh GSM, dan dibuka Pdt. R. Silaban, M.Th selaku Pendeta Resort. Materi pembinaan disampaikan oleh Dr. Nenny Ika Putri Simarmata, M.Psi., Psikolog, Dekan Fakultas Psikologi Universitas HKBP Nommensen, yang dimoderatori St. Ir. J. Hutabarat. Mengangkat tema “Mengenal Diri, Mengenal Anak”, pembinaan diarahkan untuk meningkatkan pemahaman GSM terhadap dirinya sendiri sekaligus karakter, kebutuhan, dan tahapan perkembangan anak. Materi tersebut dirancang agar para Guru Sekolah Minggu semakin siap menjalankan perannya sebagai pendidik sekaligus sahabat bagi anak-anak.
Dalam keterangannya, Dr. Nenny Ika Putri Simarmata, M.Psi, Psikolog, Selasa (24/8/2026) menyampaikan bagi Fakultas Psikologi Univesitas HKBP Nommensen Medan, kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi semangat Kampus Berdampak, yakni menghadirkan keilmuan perguruan tinggi ditengah-tengah masyarakat. Ilmu psikologi yang dikembangkan pada lingkungan akademik tidak berhenti di ruang kelas dan lingkungan kampus, tetapi harus diterapkan dalam menjawab kebutuhan nyata dalam kehidupan masyarakat dan pelayanan gereja.
Dalam pemaparannya, Dr. Nenny Ika Putri, menekankan bahwa GSM perlu mengenal dirinya sebelum memahami anak. Kemampuan mengenali pikiran, emosi, perilaku, kekuatan, kelemahan, dan potensi diri menjadi modal penting bagi seorang GSM dalam memberikan respons yang tepat terhadap berbagai karakter anak. “Sering kali tantangan dalam pelayanan bukan hanya berasal dari anak, tetapi juga dari cara kita merespons mereka,” tuturnya.
Memahami Anak, Bukan Sekadar Mengajar
Dr. Nenny Ika Putri menjelaskan, selain mengenal diri sendiri, para GSM diajak memahami perkembangan anak usia 4–12 tahun. Pendekatan pembelajaran perlu disesuaikan dengan karakteristik perkembangan anak, karena anak masih belajar mengenali emosi, memahami aturan, membangun hubungan dan mengenal Tuhan. Karena itu, anak membutuhkan guru yang sabar dan mampu memahami kebutuhan mereka.
“Pada usia 4–6 tahun, misalnya, anak lebih mudah belajar melalui cerita, lagu, alat peraga, dan permainan. Anak usia 7–9 tahun mulai dapat dilibatkan dalam diskusi sederhana, kuis, dan praktik langsung. Sementara anak usia 10–12 tahun mulai dapat diajak melakukan studi kasus, diskusi Alkitab, dan refleksi”tandasnya.
Dr. Nenny Ika Putri juga mengingatkan GSM agar tidak terburu-buru memberikan label negatif terhadap perilaku anak. Anak yang ribut, diam, mengganggu teman, atau mudah menangis dapat sedang menyampaikan kebutuhan yang belum mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata. “Dengan demikian, GSM dituntut untuk melihat perilaku anak secara lebih utuh. Anak membutuhkan rasa diterima, didengarkan, dihargai, merasa aman, dan didampingi” katamya.
Dari Kampus untuk Gereja dan Masyarakat
Dr. Nenny Ika Putri juga menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu implementasi dari konsep Kampus Berdampak yang diwujudkan sebagai bentuk pengabdian kepada gereja, dan masyarakat.“Fakultas Psikologi Universitas HKBP Nommensen Medan tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan dan pengembangan ilmu, tetapi juga mengambil bagian dalam menjawab kebutuhan masyarakat melalui pengabdian dan transfer pengetahuan”, tuturnya.
Melalui kegiatan tersebut, Fakultas Psikologi Universitas HKBP Nommensen Medan menegaskan komitmennya untuk menghadirkan ilmu, kepakaran, dan sumber daya akademik untuk memberi manfaat nyata bagi gereja dan masyarakat.
Pada akhir keterangannya, Dr. Nenny Ika Putri menyampaikan bagi para Guru Sekolah Minggu, pembinaan ini diharapkan menjadi bekal untuk menghadirkan pelayanan yang semakin ramah anak, humanis, dan relevan, sehingga GSM bukan hanya menjadi guru yang mengajar, tetapi juga menjadi sahabat yang mendampingi anak-anak untuk bertumbuh” tutupnya (RIL/MBB).








