# Tags
#Bisnis

BI: Implementasi LCS Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kawasan ASEAN

KampusMedan – Medan, Implementasi Local Currency Settlement dilakukan sejak tahun 2018, sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan stabilitas nilai tukar rupiah, memperkuat resiliensi pasar keuangan domestik dan meningkatkan huhungan perdagangan serta investasi dengan negara mitra yang sudah exciting yakni Malaysia, Jepang dan Thailand.

Demikian dikemukakan Kepala Departemen Internasional Bank Indonesia (BI) Rudy Brando Hutabarat, dalam acara Pelatihan Wartawan Ekonomi yang digelar BI di Sabang, Aceh, Sabtu (24/6).

Menurutnya, BI juga mendorong konektivitas sistem pembayaran cross border yang lebih cepat, murah, transparan dan inklusif khususnya di kawasan. BI juga menginisiasi MoU Regional Payment Connectivity yang ditandatangani di sela-sela KTT G20 November 2022 di Bali.

“Konektivitas sistem pembayaran di ASEAN dibuat karena selama ini biaya transfer cross border yang tinggi dan memakan waktu cukup lama. Tahapan transaksi cukup panjang dan belum terstandarisasi,” ujarnya.

Regional Payment Connectivity (RPC) ditujukan untuk mewujudkan dan mendukung pembayaran lintas batas yang lebih cepat, murah, transparan dan inklusif dengan modalitas: QR Code, Fast Payment, RTGS, Framework, Application Progaming Interface.“Manfaat RPC rantai transaksi lebih singkat, biaya transaksi lebih murah, interkoneksi sistem pembayaran antar negara yang seamless dan transparan,” ungkap Rudy.

Menurutnya, untuk pertumbuhan ekonomi di ASEAN lebih cepat, maka perlu kebijakan lebih baik, perlu perputaran uang lebih baik. “Untuk itu diperlukan sistem pembayaran yang baik pula. Jadi kalau ke ASEAN tak perlu bawa uang banyak, karena pembayarannya bisa menggunakan QR Code,” kata Rudy.

BI menekankan pentingnya pembahasan kalibrasi buaran kebijakan (policy mix) makro ekonomi, sehingga menopang pertumbuhan dan stabilitas ekonomi negara ASEAN. Melalui  pertemuan ASEAN telah disepakati peningkatan kerjasama dengan International Financial Institution (IFls).

Rudy menambahkan, bahwa sejumlah negara di ASEAN sepakat menggunakan mata uang lokal dalam transaksi pembayaran ekspor impor, dan tidak lagi memakai mata uang dolar Amerika Serikat (AS).

Menurutnya, penggunaan mata uang lokal (Local Currency Transaction-LCT) dalam penyelesaian transaksi perdagangan antara dua negara yang dilakukan dalam mata uang lokal masing-masing negara (tanpa melalui USD), dimaksudkan dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS (USD) untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

Ditanya tujuannya, Rudy mengatakan bahwa pengembangan pada mata uang lokal di negara kawasan tujuannya untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang hard currencies, terutama dolar AS, dengan mendorong penggunaan mata uang lokal dan investasi untuk meningkatkan resiliensi pasar keuangan Indonesia.(RED/MBB)