Home / Kampus / Hadapi Era Generative AI, Fakultas Psikologi Nommensen akan Perkuat Pendidikan Berdampak Bagi Generasi Z

Hadapi Era Generative AI, Fakultas Psikologi Nommensen akan Perkuat Pendidikan Berdampak Bagi Generasi Z

KampusMedan – Medan, Perkembangan Generative Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan tinggi, termasuk pendidikan psikologi. Teknologi tidak hanya mengubah cara mahasiswa belajar dan dosen mengajar, tetapi juga memengaruhi penelitian serta praktik layanan psikologi. Di tengah perubahan tersebut, perguruan tinggi dituntut mampu memanfaatkan AI secara adaptif tanpa mengabaikan etika, integritas akademik, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam keterangannya, Senin, 27 Juli 2026) Dekan Fakultas Psikologi Universitas HKBP Nommensen Medan, menyampaikan isu yang terkait dengan Generative Artificial Intelligence (AI), sangat strategis dan menjadi fokus pembahasan dalam Kolokium Khusus Asosiasi Penyelenggara Pendidikan Tinggi Psikologi Indonesia (AP2TPI) XXXII yang diselenggarakan pada 22–24 Juli 2026 di El Hotel Bandung dengan tema “Pendidikan Tinggi Psikologi Berdampak dan Terdampak: Era Peluang dan Tantangan Generative AI”.

Fakultas Psikologi Universitas HKBP Nommensen Medan berpartisipasi dalam acara tersebut yang dihadiri Dekan Fakultas Psikologi UHN, Dr. Nenny Ika Putri, M.Psi., Psikolog yang didampingi Wakil Dekan I, Nancy Naomi Aritonang, M.Psi., Psikolog. Keikutsertaan Fakultas Psikologi Universitas HKBP Nommensen dalam forum nasional tersebut merupakan bagian dari komitmen mendukung transformasi pendidikan tinggi menuju Kampus Berdampak, yaitu pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan berkualitas, tetapi juga mampu memberikan solusi nyata terhadap berbagai persoalan masyarakat.

Dalam konteks psikologi, tantangan tersebut semakin penting untuk dibahas karena Generasi Z menghadapi dinamika kehidupan digital yang kompleks. Selain dikenal adaptif terhadap teknologi, generasi tersebut juga dihadapkan pada berbagai persoalan kesehatan mental, seperti kecemasan, stres, burnout, krisis identitas, hingga tekanan akibat penggunaan media sosial. Kondisi tersebut menuntut pendidikan psikologi untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik, keterampilan profesional, serta kepekaan terhadap perubahan sosial dan perkembangan teknologi.

Ketua AP2TPI, Rahmat Hidayat, Ph.D., melalui paparannya menegaskan bahwa perkembangan Generative AI telah mengubah proses pembelajaran, penelitian, dan layanan psikologi. Karena itu, fokus utama pendidikan tinggi saat ini bukan lagi pada apakah AI akan digunakan, melainkan bagaimana memastikan teknologi tersebut dimanfaatkan secara kritis, etis, bertanggung jawab, dan tetap berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan.

Selain membahas pemanfaatan AI, kolokium juga menghasilkan rekomendasi penguatan kurikulum pendidikan psikologi. Pada kesempatan tersebut Dr. Ridwan Saptoto, S.Psi., M.A., Psikolog, mewakili Tim Adhoc Sarjana Psikologi AP2TPI, menyampaikan perlunya penyusunan standar capaian pembelajaran yang lebih rinci, khususnya pada mata kuliah asesmen dan intervensi psikologi, agar lulusan sarjana memiliki kesiapan yang lebih baik untuk melanjutkan pendidikan profesi. Forum tersebut juga mendukung implementasi program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) sebagai upaya memperluas akses pendidikan tinggi, dengan tetap memperhatikan standar mutu dan regulasi nasional.

Menanggapi hasil kolokium tersebut, Dr. Nenny Ika Putri, M.Psi., Psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas HKBP Nommensen dalam keterangannya (Senin, 27 Juli 2026) menyampaikan bahwa Fakultas Psikologi Universitas HKBP Nommensen Medan siap mengimplementasikan berbagai rekomendasi AP2TPI dalam pengembangan kurikulum dan proses pembelajaran. “AI harus dimanfaatkan sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas pendidikan, namun tidak boleh menggantikan kemampuan berpikir kritis, empati, dan tanggung jawab etik yang menjadi inti profesi psikologi” tuturnya.

Lebih lanjut Dr. Nenny Ika Putri, M.Psi., Psikolog menuturkan Psikologi adalah ilmu tentang manusia. Karena itu, secanggih apa pun teknologi berkembang, pendidikan psikologi harus tetap menempatkan nilai kemanusiaan sebagai fondasi utama. AI membantu meningkatkan efektivitas pembelajaran dan penelitian, tetapi empati, integritas, serta kebijaksanaan seorang psikolog tidak akan pernah tergantikan oleh teknologi,” ujarnya.

Melalui partisipasi dalam Kolokium Khusus AP2TPI XXXII, Fakultas Psikologi Universitas HKBP Nommensen Medan, menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pendidikan psikologi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, sejalan dengan semangat Kampus Berdampak, serta mampu menghasilkan lulusan yang unggul, berintegritas, dan siap menjawab tantangan kesehatan mental masyarakat, khususnya Generasi Z, di era transformasi digital. (REL/MBB)

Tag:

Tinggalkan Balasan