KampusMedan – Medan, Dewan Pimpinan Pusat Forum Akuntansi, Manajemen & Ekonomi (DPP FAME) Indonesia sukses menggelar Webinar Nasional bertajuk “Transformasi Digital dan Artificial Intelligence Dalam Peningkatan Peran Akuntan”, yang diselenggarakan Minggu (15/5/2026) secara daring, dan diikuti kurang lebih 60 orang peserta dari berbagai kota di Indonesia.
Webinar nasional tersebut menampilkan pembicara Dr.Rini Indahwati, SE,MSi, Ketua Jurusan Akuntansi Politeknik Medan (Polmed), yang juga selaku Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Sumut FAME, dan dipandu moderator Nurhaflah Soraya,SE, Ak, MSi, yang juga dosen Polmed.
Dr.Rini Indahwati mengungkapkan banyak kekhawatiran mahasiswa Akuntansi selama ini, bahwa mereka akan tergantikan oleh Artificial Intelligence (AI). Inilah alasan topik webinar ini sangat menarik dan relevan menjadi pembahasan dewasa ini.
Betul bahwa AI mampu menggantikan sebagian tugas tenaga kerja di satu sisi, termasuk tugas akuntan. Namun di sisi lain, AI juga membuka lapangan kerja baru, karena transformasi digital berbasis AI menciptakan model bisnis baru yang juga membuka lapangan kerja baru.
“Kita harus tetap optimis. Pendapat sejumlah pihak bahwa kampus akan menghasilkan akuntan yang tidak memperoleh lapangan kerja, itu tidak betul. Akuntan itu tidak akan tergantikan, sepanjang akuntan itu bersahabat dengan teknologi digital”,tegasnya.
Dr.Rini menjelaskan, transformasi digital itu merupakan proses integrasi teknologi digital ke seluruh aspek bisnis dan organisasi, yang secara fundamental mengubah cara beroperasi perusahaan dan memberikan nilai kepada pelanggan.” Jadi baik itu Akuntan Publik, Akuntan Manajemen, Akuntan Pemerintahan maupun Akuntan Pendidik harus beradaptasi dengan baik”,tegasnya.
Menurutnya, siklus akuntansi memang akan terpotong dengan aplikasi digital, karena semua tahapan akuntansi terpengaruh teknologi digital. sehingga penyusunan laporan keuangan menjadi lebih cepat, hal ini meningkatkan efisiensi operasional perusahaan. Oleh sebab itu, tugas akuntan semakin dituntut kemampuannya melakukan analisis untuk membantu meningkatkan akurasi dan presisi pengambilan keputusan pimpinan perusahaan.
Mahasiswi Polmed, Putri Fanita Tamba, menanyakan kompetensi apa yang harus dimiliki mahasiswa Akuntansi dengan transformasi digital dimaksud. Rini Indahwati mengatakan bahwa akuntan harus memiliki kompetensi baru, baik itu mengenai big data, data science. Akuntan tidak harus menciptakan atau membangun aplikasi baru, itu bisa dikerjakan orang IT, tetapi akuntan harus memahami alurnya.
Makanya ketika Putri Tania Tamba mempertanyakan apakah kurikulum akan diubah ke arah akuntansi digital, Dr. Rini mengakui memang betul akan terus ada penyesuaian kurikulum, namun bukan berarti meninggalkan konsep dasar akuntansi. “Menguasai konsep dulu dong baru analisis laporan keuangan, supaya mampu memberikan masukan berharga terhadap pengambilan keputusan”,paparnya.

Rini menambahkan, supaya mahasiswa tidak ketinggalan dari AI, maka mahasiswa harus update knowledge dan skill. Peningkatan knowledge tentu belajar dengan kurikulum yang juga terus diperbaharui, dan terus meningkatkan skill lewat magang, kegiatan mahasiswa di luar kampus. “Mahasiswa pokoknya harus gaul. Orang Akuntansi jangan hanya belajar menggunakan kacamata kuda, tetapi harus mempelajari faktor lain pendukung Akuntansi itu sendiri, termasuk meningkatkan skill di bidang teknologi digital. Intinya Akuntan dilarang gaptek.”,jelasnya.
Ada yang mempertanyakan validitas penggunaan teknologi digital di bidang Akuntansi. DR.Rini mengatakan, bahwa pengembangan sistem akuntansi digital tidak bisa hanya mengandalkan atau melibatkan orang-orang IT, harus melibatkan team work yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu, seperti akuntan dan praktisi hukum. Kalau hanya orang IT yang mengembangkan sistem akuntansi, sering terjadi implementasinya terkendala. “Itu sebabnya kita butuh literasi digital untuk meningkatkan kehati-hatian terhadap sistem-sistem output teknologi digital tersebut”,tegasnya.
Ada peserta yang menanyakan bagaimana tranformasi digital di UMKM. Rini Indahwati yang benar-benar mendalami dan terlibat pendampingan UMKM dan BUMDes ini mengatakan, kita harus melihat karakteristik UMKM dimaksud, apakah mereka gaptek, bagaimana kemampuan mereka di bidang teknologi dan layanan digital, baru kita selaku pendamping mengetahui persis apa kebutuhan UMKM dimaksud.
Peserta menanyakan apakah ada aplikasi yang bisa digunakan dosen, untuk mengetahui apakah mahasiswa bimbingan skripsi di kampus menyusun skripsinya dengan menggunakan AI atau dikerjakan langsung. Menurut Rini, selain memperhatikan similirity Checker, juga bisa menggunakan GPT Zero.
Webinar yang digelar DPP FAME Indonesia ini sangat interaktif, disambut peserta dengan banyaknya pertanyaan di kolom chat maupun yang bertanya langsung secara daring dari platform Zoom Meeting. Meski hari Minggu, webinar ini mampu menyita perhatian peserta yang dari dari berbagai kota di Indonesia. Webinar ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada narasumber dan foto bersama.(RED/MBB)








