Home / Kampus / Dosen FEB UNPRI Sukses Berikan Ceramah “Membangun Budaya Sekolah Berbasis Karakter” di SMP Karya Utama Deli Serdang

Dosen FEB UNPRI Sukses Berikan Ceramah “Membangun Budaya Sekolah Berbasis Karakter” di SMP Karya Utama Deli Serdang

KampusMedan – Medan, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Prima Indonesia (FEB UNPRI), Mangasi Butarbutar,SE,MM, sukses memberikan ceramah bertajuk “Membangun Budaya Sekolah Berbasis Karakter” di SMP Karya Utama di Jln.Pendidikan No 23 Marindal Kecamatan Patumbak Kabupaten Deli Serdang, Kamis (24/9/2026).

Pada acara yang dihadiri siswa SMP, siswa SMA dan guru=guru tersebut, Mangasi Butarbutar menyampaikan pentingnya membangun budaya sekolah berbasis karakter, antara lain untuk meningkatkan pemahaman moral, menumbuhkan perasaan moral (merasa bersalah kalau berbuat buruk), dan menumbuhkan tindakan moral (mendorong orang lain bertindak secara moral), dan mengatasi degradasi moral yang sudah menjadi perhatian semua kalangan saat ini.

“Lulusan SMP, SMA/SMK, perguruan tinggi yang pintar itu bagus. Nmun pintar tapi tak memiliki karakter yang baik juga akan sia-sia. Banyak pelaku korupsi itu berpendidikan tinggi bahkan sekelas guru besar (profesor), tapi tak punya integritas. Ijazah yang kita miliki tidak menunjukkan kita sudah terdidik dan punya karakter, ijazah hanya menunjukkan bahwa kita pernah belajar di suatu lembaga pendidikan tertentu”,ujarnya.

Mangasi Butarbutar menambahkan, lulusan SMP, SMA bahkan perguruan tinggi yang berkarakter akan memiliki rasa empati, respek, disiplin, tekun, rendah hati, tidak rasis, mampu mengendalikan emosi, punya skala prioritas, berpikir kritis, kreatif dan inovatif.

Menurut Mangasi Butarbutar, budaya merupakan kebiasaan atau adat istiadat. Sedangkan karakter merupakan tabiat, sikap kejiwaan, akhlak, budi pekerti atau watak yang membedakan seseorang dari pribadi lainnya. “Oleh sebab itu sekolah perlu membangun budaya berbasis karakter, yang membedakan suatu sekolah dari sekolah lainnya, dan yang akan membedakan lulusan sekolah tersebut dari lulusan sekolah lainnya. Pendidikan karakter memang tidak hanya melulu dibentuk di sekolah, tapi juga dari keluarga dan lingkungan”,tambahnya.

Ketika siswa dan guru bertanya bagaimana cara membangun budaya sekolah, Mangasi Butarbutar mengatakan bahwa membangun budaya sekolah dimulai dari keteladan guru (jujur, disiplin dan bertanggung jawab). Kemudian disusul dengan pembinaan rutin di sekolah berupa pelaksanaan doa bersama, menciptakan sapaan khas, senyum, bersih dan komit meningkatkan literasi siswa. Kemudian melakukan integrasi kurikulum, serta tata kelola dan aturan yang tegas.

“Integrasi kurikulum dilakukan dengan memasukkan karakter ke dalam berbagai kegiatan di sekolah, baik kegiatan yang sifatnya intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler. Tetap menyisipkan pendidikan karakter ketika belajar di kelas atau di luar kelas, ketika ulangan, ketika praktikum di laboratorium. Menyisipkan karakter dengan mendaur ulang sesuatu, kampanye anti perundungan, kampanye kesehatan mental, membuat kompetisi antar kelas, melakukan kunjungan ke UMKM, sehingga siswa memahami bahwa semua hal harus melalui proses dan tidak instan, mengetahui bahwa berusaha itu butuh perjuangan”,tandasnya.

Menurutnya, membangun budaya sekolah berbasis karakter sesuai dengan tuntutan Pasal 3 UU Sisdiknas, yaitu pembentukan disiplin positif, peningkatan ketrampilan sosial dan membangun kepemimpinan moral. Disebutkannya terdapat 6 budaya sekolah yang perlu dilakukan secara konsisten, antara lain budaya jujur, budaya saling menghargai, budaya refleksi diri, budaya membaca dan belajar mandiri, budaya gotong royong dan budaya disiplin.

Acara yang didukun oleh UNPRI, ASTRA dan SHARP tersebut, Mangasi Butarbutar menganjurkan supaya sekolah membangun budaya sekolah, kemudian didukung oleh tagline (semboyan) yang relevan, yang tidak hanya cantik di atas kertas, tapi diimplementasikan sehari-hari, yang kemudian menjadi jati diri dan ciri khas sekolah, dan mampu membedakannya dari sekolah lainnya. Mangasi Butarbutar kemudian menunjukkan budaya dan tagline beberapa perusahaan dan juga sekolah yang bisa digunakan sebagai perbandingan.

Ketika tanya jawab, banyak siswa dan guru mengajukan pertanyaan yang sangat beragam. Salah seorang guru bertanya, apa upaya yang bisa dilakukan ketika siswa tidak mau mengikuti Test Ketrampilan Dasar Akademik (TKDA) meski sudah diimbau berulang kali, Mangasi Butarbutar mengatakan perlu menyajikan contoh-contoh nyata kehidupan secara visual dalam bentuk video.

“Generasi sekarang kan lebih cepat belajar dari hal-hal yang visual, maka silahkan bapak ibu menyajikan video-video kehidupan nyata yang dengan mudah bisa kita peroleh dari berbagai aplikasi. Misalnya kita sajikan video dampak hidup seseorang kalau malas, kalau tak disiplin, kalau melawan orang tua, kalau rasis, kalau tak punya empati, kalau suka melakukan perundungan. Seperti saya lakukan hari ini, saya tampilkan video bahwa pelamar kerja diterima bukan karena melihat ijazahnya, tapi menerima seseorang menjadi karyawan karena karakternya yang baik”,ujarnya.

Sebelumnya Kepala Sekolah SMP Karya Utama, Anggiat Sahat Siringoringo SE,Ak menyambut gembira kegiatan tersebut, dan meminta kepada seluruh siswa yang hadir untuk memahami dan menerapkan pendidikan karakter tersebut di sekolah dan dimana pun berada. Bahkan menugaskan seluruh siswa untuk membuat tagline hidup masing-masing dan diserahkan ke sekolah.

Anggiat Sahat Siringoringo SE,Ak menambahkan, bahwa pihaknya sudah mensosialisasikan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (Gerakan 7 KAIH) seperti tercantum Surat Edaran Nomor 14 Tahun 2025 Kemendikdasmen, sebagai kebijakan turunan UU Sisdiknas, antara lain Berdoa sebelum dan sesudah melakukan sesuatu, Membiasakan salam, senyum, sapa, sopan, dan santun (5S), Disiplin dan bertanggung jawab, Jujur dan dapat dipercaya, Cinta kebersihan dan kesehatan, Gemar membaca dan belajar, Peduli dan gotong royong.(RED/MBB)

Tag:

Tinggalkan Balasan