Home / Ragam / HKBP Libatkan Dr. Nenny Ika Putri Simarmata, M.Psi. Psikolog Membentuk Calon Pelayan yang Tangguh

HKBP Libatkan Dr. Nenny Ika Putri Simarmata, M.Psi. Psikolog Membentuk Calon Pelayan yang Tangguh

KampusMedan – Sipolohon, Perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan, tetapi juga menghadirkan pengetahuan dan keahliannya untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Semangat itulah yang ditunjukkan Fakultas Psikologi Universitas HKBP Nommensen Medan dalam pembentukan kompetensi pastoral calon pelayan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) baru-baru ini.

Dr. Nenny Ika Putri Simarmata, M.Psi., Psikolog yang merupakan Dekan Fakultas Psikologi UHN Medan, turut menjadi narasumber dalam kegiatan “Pembentukan Kompetensi Pastoral Calon Pelayan HKBP” yang berlangsung di Aula HKBP Seminarium Sipoholon, Jumat (4/9/2026). Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Biro Pembinaan HKBP dan diikuti ratusan calon pelayan yang terdiri atas calon Guru Huria, calon Bibelvrouw, dan calon Diakones HKBP.

Dalam keterangannya, Selasa (8/9/2026), Dr. Nenny Ika Putri Simarmata, M.Psi. Psikolog menyampaikan kepada media, bahwa kegiatan ini diarahkan untuk membekali calon pelayan dengan kemampuan psikologis yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi tuntutan kehidupan dan pelayanan, dengan menyampaikan materi “Kecerdasan Emosi & Ketangguhan Diri: Mengelola Emosi, Manajemen Stres, dan Perubahan Perilaku”.

“Kemampuan mengenali dan mengelola emosi, menghadapi stres secara sehat, serta membangun perubahan perilaku merupakan keterampilan yang saling berkaitan. Lewat materi pelatihan yang disampaikan, ketiga kemampuan tersebut merupakan fondasi bagi kesejahteraan pribadi sekaligus produktivitas dalam bekerja dan berinteraksi sosial”, sebut Dr. Nenny Ika Putri.

“Bagi calon pelayan, kemampuan tersebut memiliki arti strategis. Pelayanan pastoral tidak hanya berhadapan dengan persoalan teologis, tetapi juga dengan manusia dan berbagai dinamika kehidupan. Karena itu, calon pelayan perlu memiliki kemampuan merawat kesehatan dirinya agar mampu hadir secara utuh ketika mendampingi jemaat. Materi yang disampaikan juga mencakup pengenalan emosi, regulasi emosi, teknik S.T.O.P., pelabelan emosi, reframing kognitif, manajemen stres, strategi coping, hingga pengenalan gejala burnout”, tutur Dr. Nenny Ika Putri.

Dari Kampus untuk Masyarakat

Keterlibatan Fakultas Psikologi Universitas HKBP Nommensen Medan dalam pembinaan calon pelayan HKBP memperlihatkan keahlian akademik dapat dibawa keluar dari ruang kuliah dan laboratorium untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Konsep tersebut sejalan dengan semangat kampus berdampak, dimana perguruan tinggi jangan berhenti pada aktivitas pendidikan dan penelitian, tetapi menghubungkan kepakaran dosen dengan kebutuhan masyarakat, lembaga, dan komunitas.

Dalam konteks ini, ilmu psikologi tidak hanya dipelajari oleh mahasiswa, tetapi juga dimanfaatkan untuk memperkuat kapasitas calon pelayan yang nantinya akan berhadapan langsung dengan jemaat dan masyarakat.

Dr. Nenny Ika Putri Simarmata, M.Psi. Psikolog menyampaikan rancangan pembentukan kompetensi pastoral HKBP sendiri menempatkan keterampilan merawat kesehatan jiwa sebagai salah satu bagian penting dalam pembinaan calon Guru Huria, calon Bibelvrouw, dan calon Diakones. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kemampuan pelayan dalam memahami kondisi kesehatan mental, mengelola emosi dan stres secara sehat, serta membangun perubahan perilaku yang positif, adaptif, dan berkelanjutan.

Membangun Pelayan yang Sehat dan Tangguh

Dr. Nenny Ika Putri Simarmata, M.Psi, Psikolog juga menuturkan bahwa “pembekalan juga menekankan bahwa perubahan perilaku merupakan sebuah proses bertahap. Peserta diperkenalkan pada tahapan perubahan mulai dari precontemplation, contemplation, preparation, action, maintenance, hingga relapse”. Pemahaman tersebut penting agar calon pelayan tidak melihat perubahan sebagai sesuatu yang instan, tetapi sebagai proses yang membutuhkan kesadaran, latihan, konsistensi, dan kemampuan bangkit ketika menghadapi kemunduran.

“Pendekatan semacam ini memperluas makna kompetensi pastoral. Seorang pelayan tidak hanya dituntut mampu menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga memiliki kematangan diri, kemampuan mengelola tekanan, membangun relasi sehat, serta memahami kebutuhan orang yang didampingi. Hal tersebut juga berhubungan dengan kompetensi pastoral klinis yang menjadi bagian lain dalam program pembinaan, terutama kemampuan mendengar secara aktif, empatik, dan reflektif dalam memahami pengalaman serta pergumulan seseorang” tambah Dr. Nenny Ika Putri.

“Pada akhirnya, pembentukan calon pelayan HKBP bukan hanya investasi bagi gereja, tetapi juga investasi bagi kualitas kehidupan masyarakat. Ketika calon pelayan memiliki kecerdasan emosi, ketangguhan diri, dan kemampuan menjaga kesehatan mental, maka akan mampu memberikan pelayanan yang lebih sehat, empatik, adaptif, dan bertanggung jawab”, tegas Dr. Nenny Ika Putri Simarmata, M.Psi. Psikolog. (RIL/MBB)

Tag:

Tinggalkan Balasan